Teruntuk kamu yg mempertanyakan sikap aku, dan menyalahkan jarak.
Kamu.. Kamu masih saja berkutat di tempat yg sama..
Masih saja bebal, dan masih belum bisa peka dengan keadaan serupa..
Lebih dari dua minggu..
Bukannya aku sengaja menurunkan kualitas komunikasi kita..
Tapi seharusnya kamu sadarkan diri kamu..
Maaf, maaf kalau aku bersifat introvert untuk hal seperti ini..
Tapi sewajarnya kamu mengerti apa yg ada di pikiran ini..
Saya melampiaskan rasa ketidak-sukaan saya hanya dengan diam..
Mungkin itu kurang baik.. Entah bagi siapa.. Karena menurut saya itu sudah cukup baik..
Tujuh belas bulan lebih kita mengenal dalam keterikatan.. Dan bukan sekali ini saja terjadi..
Ketika kecerobohan kamu berakibat fatal terhadap kehidupan kamu..
Kehilangan barang yang mengakibatkan kamu sulit bergaul dengan "normal" di rumah kamu sendiri..
Ada perasaan dendam disini..
"Rasakan! Rasakan karena kepekaan kamu sulit ditemukan!"
"Rasakan! Rasakan karena memang itu kecerobohan kamu.."
"Rasakan! Rasakan karena itu terjadi ketika kamu akan berbuat hal yg membuat aku diam selama ini!"
Semua berawal dari satu kalimat..
"Dengan ini, disini, aku bisa main!"
Pemilihan kata yg buruk rasanya..
Ketika tuntutan akademis berjalan lambat, hak dari hidup "bebas" menurut kamu itu malah berjalan sebaliknya..
Aku tidak menyalahkan apa yg terjadi. Aku hanya kurang nyaman dengan apa yg kamu lakukan.
Tidak ada keinginan untuk menyalahkan piranti atau mungkin membodohkan kerasnya ponsel yg digunakan.
Mungkin ini cara kamu menikmati hari-hari yg ada..
Aku tidak merasa dikesampingkan, karena aku juga sibuk menikmati hari-hari kerja.
Teruntuk masalah sepele ini, semoga kamu bisa peka dengan keadaan juga siap dengan resikonya.
Semoga ijazah kamu ternyata memang ada diujung pin dari dinding itu..
Aku sayang kamu.